Jamu Canden Go Digital, UPN “Veteran” Yogyakarta Dorong Produk Lokal Tembus Pasar Lebih Luas
Produk jamu dari Kalurahan Canden, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), didorong semakin dikenal melalui pemanfaatan pemasaran digital. Upaya tersebut dilakukan melalui pelatihan digital marketing yang menyasar ibu-ibu produsen dan penjual jamu di wilayah Canden, Senin (31/8/2026).
Pelatihan ini merupakan bagian dari program Pengabdian bagi Masyarakat (PbM) yang dilaksanakan dosen-dosen UPN “Veteran” Yogyakarta. Kegiatan tersebut memberikan pembekalan praktis kepada pelaku usaha agar mampu memperkuat identitas produk, mengenali calon konsumen, serta memanfaatkan media digital untuk memperluas pemasaran.
Bagi pelaku usaha jamu rumahan, kemampuan memasarkan produk secara digital dinilai semakin penting. Perubahan kebiasaan konsumen membuat produk tidak cukup hanya memiliki kualitas yang baik, tetapi juga harus mudah ditemukan, dikenali, dan dipercaya calon pembeli.
Dalam sambutannya, Lurah Canden menyampaikan dukungan terhadap peningkatan kemampuan pelaku usaha jamu. Menurutnya, pengembangan usaha tidak hanya berkaitan dengan peningkatan ekonomi masyarakat, tetapi juga menjadi bagian dari upaya menjaga keberadaan jamu sebagai warisan lokal.
Karena itu, para pelaku usaha diharapkan mampu mengikuti perkembangan perilaku konsumen tanpa kehilangan karakter khas jamu Canden.
Keunikan produk, nilai budaya, serta kearifan lokal menjadi modal yang perlu dipertahankan ketika jamu mulai dipasarkan melalui berbagai kanal digital.
Sementara itu, Ketua Tim Pengabdian bagi Masyarakat (PbM), Virginia Ayu Sagita, menekankan pentingnya memberikan pengetahuan digital yang dapat langsung digunakan oleh pelaku usaha skala rumah tangga.
Menurutnya, pelatihan tidak sebatas memberikan teori mengenai pemasaran digital. Peserta diharapkan dapat lebih percaya diri memperkenalkan produk, menyusun pesan promosi, hingga membangun hubungan yang baik dengan pelanggan.
Materi pelatihan disampaikan Tania Nugraheni Ayuningtyas dengan fokus pada branding bagi pemula sebagai salah satu fondasi penting dalam digital marketing.
Peserta dikenalkan dengan cara membangun identitas merek yang unik dan mudah diingat. Mereka juga belajar menentukan target konsumen melalui pembuatan persona agar strategi pemasaran lebih tepat sasaran.
Selain itu, peserta mendapatkan pemahaman mengenai pentingnya konsistensi identitas merek. Unsur yang dibahas antara lain logo, warna, jenis huruf, hingga gaya komunikasi yang digunakan ketika memperkenalkan produk kepada konsumen.
Pengembangan merek jamu juga tidak harus berhenti pada kemasan produk. Dalam pelatihan, peserta diperkenalkan dengan sejumlah ide pemasaran yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan konsumen.
Di antaranya produk jamu sebagai oleh-oleh, hampers, program tematik, kampanye ramah lingkungan, hingga kegiatan yang lebih dekat dengan konsumen dari kalangan muda.
Pelatihan semakin menarik karena peserta tidak hanya mendapatkan materi, tetapi juga mengikuti demo foto produk secara langsung.
Peserta mencoba memotret produk jamu dengan teknik sederhana agar hasil foto terlihat lebih menarik dan layak digunakan untuk promosi di media sosial maupun kanal digital lainnya.
Pelaku usaha juga diajak mempraktikkan pembuatan materi promosi sederhana. Mereka belajar mengembangkan nama merek, tagline, serta cerita di balik produk jamu yang dapat menjadi pembeda dari produk lainnya.
Salah satu praktik yang diperkenalkan adalah membuat iklan sederhana melalui WhatsApp Story.
Struktur iklan dibuat mudah dengan tiga bagian utama, yakni judul, isi pesan, dan ajakan kepada konsumen. Pola sederhana ini diharapkan dapat membantu pelaku usaha mulai aktif mempromosikan produknya tanpa harus menggunakan perangkat atau strategi pemasaran yang rumit.
Dalam pemasaran digital, keberhasilan promosi juga tidak hanya dilihat dari jumlah unggahan. Pelaku usaha perlu mengetahui apakah strategi yang digunakan benar-benar memberikan dampak terhadap perkembangan bisnis.
Sejumlah indikator yang dapat digunakan antara lain tingkat pengenalan merek, persepsi konsumen terhadap produk, pembelian ulang, bertambahnya pelanggan baru, peningkatan penjualan, serta interaksi di media sosial seperti komentar, tanda suka, bagikan, dan simpan.
Melalui pelatihan tersebut, pelaku usaha jamu Canden diharapkan tidak hanya mampu membuat produk yang berkualitas, tetapi juga memiliki kemampuan untuk mengemas cerita dan identitas produk agar lebih mudah diterima pasar.
Pemanfaatan digital marketing membuka peluang bagi jamu Canden untuk menjangkau konsumen yang lebih luas, bahkan di luar wilayah Bantul dan Yogyakarta.
Kolaborasi antara pemerintah kalurahan, perguruan tinggi, narasumber, dan masyarakat menjadi salah satu langkah penting dalam memperkuat kapasitas pelaku usaha lokal.
Dengan strategi pemasaran yang lebih baik dan tetap mempertahankan karakter lokal, jamu Canden diharapkan mampu berkembang menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi sekaligus tetap menjaga warisan budaya masyarakat setempat.
https://beritajatim.com/pelaku-usaha-jamu-canden-bantul-dibekali-digital-marketing-dari-upn-veteran-yogyakarta-produk-lokal-didorong-naik-kelas
Indonesia
English