Kiprah Mahasiswa dan Alumnus MMB dalam Penanganan Darurat Bencana Gempa Flores: Solidaritas dari Berbagai Lembaga
Gempa bumi berkekuatan M 7,7 yang mengguncang wilayah Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), pada 15 Agustus 2026 lalu, telah menimbulkan duka mendalam. Data sementara mencatat lebih dari 70 jiwa meninggal dunia dan ratusan lainnya luka-luka, serta lebih dari 22.000 warga terpaksa mengungsi akibat bencana yang merusak ribuan rumah dan fasilitas umum ini .
Di tengah musibah ini, semangat solidaritas dan profesionalisme para relawan kebencanaan menjadi penerang. Sejumlah nama yang merupakan alumni dan mahasiswa dari program Magister Manajemen Bencana (MMB) turut ambil bagian dalam kerja-kerja kemanusiaan di daerah-daerah terdampak seperti Manggarai Barat, Manggarai, Manggarai Timur, Nagekeo, dan Ende . Mereka berkolaborasi dengan berbagai instansi dan lembaga untuk memastikan penanganan darurat berjalan optimal.
Berikut adalah sebagian dari mereka yang bergerak di garis depan:
- Tasril Mulyadi, Mahasiswa MMB Angkatan 19– Bertugas di Kabupaten Manggarai Barat bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Dengan pengalaman sebagai Disaster Management Officer di BNPB, Tasril fokus pada koordinasi penanganan darurat dan kesiapsiagaan bencana di lapangan .
- Maizar Helmi, Mahasiswa MMBAngkatan 15– Terlibat di Kabupaten Nagekeo bersama Dompet Dhuafa. Sebagai Koordinator Nasional Dompet Dhuafa Volunteer (DDV), pengalaman panjangnya dalam evakuasi dan manajemen logistik sangat krusial dalam pendistribusian bantuan serta dukungan psikososial di lokasi bencana .
- Hakiim Marzun, Alumni MMB Angkatan 15– Bertugas di Kabupaten Manggarai. Beliau turut berkontribusi dalam upaya pemulihan awal dan pemenuhan kebutuhan dasar warga yang terdampak.
- Severinus L. Budiman, Mahasiswa MMB Angkatan 19– Melayani wilayah Kabupaten Ende dan Nagekeo bersama Wahana Visi Indonesia (WVI). Sebagai Disaster Management Specialist WVI NTT dan Indonesia Timur, ia menyoroti pentingnya kolaborasi semua pihak, termasuk edukasi kebencanaan bagi anak-anak sebagai upaya mitigasi jangka panjang .
- Ahmad Hendra Purwanto, Mahasiswa MMB Angkatan 19– Bekerja di Kabupaten Manggarai Barat bersama BNPB. Beliau fokus pada asesmen cepat dan koordinasi lintas sektor di wilayah yang terkena dampak parah.
- dr. Netty Nurnaningtyas, MMB 15– Mengabdi di Kabupaten Manggarai Timur bersama MDMC (Muhammadiyah Disaster Management Center). Netty terlibat dalam penanganan kesehatan dan pemenuhan kebutuhan dasar bagi para pengungsi.
Kehadiran para alumnus dan mahasiswa MMB ini menunjukkan bahwa pendidikan kebencanaan yang komprehensif mampu melahirkan praktisi tangguh yang siap siaga. Mereka tidak hanya mengandalkan teori, tetapi juga pengalaman lapangan dan empati tinggi dalam setiap aksi kemanusiaan. "Tidak hanya guru atau orang tua saja, tapi kolaborasi semua pihak," tegas Severinus Budiman terkait pentingnya pendekatan holistik dalam penanganan bencana .
Kami mengapresiasi dedikasi seluruh pihak yang terlibat dan berharap semangat kebersamaan ini terus terjaga hingga masa pemulihan pasca-bencana.
Tentang Program Magister Manajemen Bencana (MMB)
Program MMB adalah program pascasarjana yang berkomitmen untuk mencetak pemimpin dan praktisi di bidang penanggulangan bencana. Alumni MMB tersebar di berbagai instansi pemerintah, LSM, dan organisasi kemanusiaan, baik di tingkat nasional maupun internasional.
Indonesia
English