UPN “Veteran” Yogyakarta Kukuhkan 4 Guru Besar, Perkuat Keunggulan Akademik

  • Selasa 31 Maret 2026
  • Oleh : Dewi
  • 28
  • 5 Menit membaca
UPN VETERAN Yogyakarta

YOGYAKARTA_ Universitas Pembangunan Nasional (UPN) “Veteran” Yogyakarta memperkokoh posisi sebagai Kampus Unggul dengan mengukuhkan empat guru besar. Bertambahnya pakar berbagai bidang keilmuan tersebut, sebagai upaya Kampus Bela Negara meningkatkan kualitas pendidikan dan riset yang berdampak nyata pada masyarakat.

Empat guru besar tersebut menjalani prosesi pengukuhan secara khidmat melalui Sidang Terbuka Senat yang digelar pada Selasa (31/3/2026) di Gedung Auditorium WR. Supratman. Keempatnya adalah Prof. Dr. Dyah Sugandini, S.E., M.Si., Prof. Prayudi, S.I.P., M.A., Ph.D., Prof. Dr. Yuni Siswanti, S.E., M.Si., dan Prof. Dr. Januar Eko Prasetio, S.E., M.Si., Ak., MPA., CA., ASEAN CPA.

Selanjutnya, UPN “Veteran” Yogyakarta akan menggelar pengukuhan Guru Besar Prof. Ir. Nur Indrianti, M.T., D.Eng., IPU, ASEAN Eng. pada April 2026 mendatang. Secara total, Kampus Bela Negara menambah lima guru besar pada jajaran akademisinya.

Rektor UPN “Veteran” Yogyakarta, Prof. Dr. Ir. Mohamad Irhas Effendi, M.S., menyampaikan selamat dan apresiasi setinggi-tingginya kepada para guru besar yang baru dikukuhkan. Rektor berharap, para guru besar dapat menjadi penggerak utama pengembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan inovasi sekaligus menjadi teladan dalam integritas akademik, kepemimpinan ilmiah, dan pengabdian kepada masyarakat.

“Dalam konteks UPN "Veteran" Yogyakarta yang didirikan oleh para pejuang dengan semangat sebagai Kampus Bela Negara, peran guru besar semakin strategis dalam memperkuat nilai-nilai kebangsaan, kemandirian, serta kontribusi nyata terhadap pembangunan nasional,” ujar Rektor dalam sambutannya.

Rektor juga berharap para guru besar yang hari ini dikukuhkan dapat terus menghasilkan karya-karya ilmiah berkualitas, memperkuat kolaborasi nasional dan internasional, serta memberikan solusi atas berbagai persoalan strategis bangsa dan dunia. Menjadi guru besar, lanjut Rektor, bukanlah akhir dari perjalanan akademik, melainkan awal dari tanggung jawab keilmuan yang lebih besar. Oleh karena itu, para guru besar diharapkan terus berkarya, berinovasi, serta memberikan kontribusi nyata sesuai bidang keahliannya.

Prof. Dr. Dyah Sugandini, SE, M.Si dikukuhkan sebagai Guru Besar Bidang Manajemen Pemasaran dengan konsentrasi Perilaku Konsumen pada Fakultas Ekonomi dan Bisnis. Prof. Dyah yang juga menjabat sebagai Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) UPN “Veteran” Yogyakarta menyampaikan orasi ilmiah berjudul “Perilaku Adopsi E-learning pada Pendidikan Tinggi: Integrasi Technology Readiness, Keinovasian, System Quality, dan Dukungan Pimpinan”.

Orasi ilmiah Prof. Dyah membahas faktor-faktor yang mempengaruhi adopsi e-learning di pendidikan tinggi, meliputi kesiapan teknologi (technology readiness), keinovasian individu (personal innovativeness), kualitas sistem (system quality), dan dukungan pimpinan (leadership support). Hasil penelitian menunjukkan bahwa dukungan pimpinan menjadi faktor paling kuat dalam mendorong penggunaan e-learning oleh mahasiswa.

“Temuan ini menegaskan bahwa keberhasilan implementasi e-learning tidak hanya ditentukan oleh teknologi, tetapi juga oleh kesiapan pengguna serta dukungan institusi,” papar Prof. Dyah.

Prof. Prayudi, S.I.P., M.A., Ph.D. dikukuhkan sebagai Guru Besar Bidang Komunikasi Krisis dan Korporat pada Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP). Prof. Prayudi yang juga menjabat sebagai Kepala UPA Perpustakaan menyampaikan orasi ilmiah berjudul “Transformasi Komunikasi Krisis: Membangun Resiliensi Organisasi Berbasis Kepekaan Risiko, Pemangku Kepentingan dan Empati di Era Media Sosial.”

Melalui orasi ilmiahnya, Prof. Prayudi menekankan bahwa organisasi perlu mengubah pendekatan komunikasi krisis dengan lebih cepat, transparan, serta berorientasi pada kepentingan publik dan pemangku kepentingan di era media sosial. Organisasi tidak dapat terus bergantung hanya pada pendekatan komunikasi krisis yang reaktif dan informasi yang terkontrol. Ada kebutuhan untuk melakukan pergeseran menuju pendekatan yang lebih adaptif, strategis, dan peka terhadap risiko.

“Dengan menggunakan pendekatan ini, diharapkan organisasi dapat meningkatkan deteksi awal krisis potensial, mempersiapkan strategi komunikasi krisis yang responsif, dan mengembangkan kapasitas institusi untuk merespons dinamika krisis dengan cara yang cepat, akurat, dan terkoordinasi,” ujar Prof. Prayudi.

Selain itu, transformasi komunikasi krisis memerlukan pergeseran paradigma dari komunikasi yang berpusat pada organisasi, menjadi pendekatan yang lebih inklusif dan berorientasi pada pemangku kepentingan. Lebih jauh, dimensi empati menjadi pondasi penting dalam transformasi komunikasi krisis di era media sosial.

Prof. Dr. Yuni Siswanti, S.E., M.Si., dikukuhkan sebagai Guru Besar Bidang Kepemimpinan pada Fakultas Ekonomi dan Bisnis. Prof. Yuni memaparkan orasi ilmiah berjudul “Kontribusi Strategis Kepemimpinan Autentik dan Language Motivating pada Perilaku Kerja Inovatif”.

Orasi Prof. Yuni menekankan pentingnya kepemimpinan autentik yang berlandaskan integritas, keterbukaan, dan kesadaran diri dalam mendorong kreativitas serta perilaku kerja inovatif karyawan. Penelitian menunjukkan bahwa kreativitas karyawan menjadi penghubung utama antara kepemimpinan autentik dan inovasi, yang semakin diperkuat melalui komunikasi motivatif dari pemimpin.

“Dengan demikian, kepemimpinan yang autentik dan komunikatif berperan penting dalam meningkatkan kinerja dan inovasi organisasi,” ujar Prof. Yuni.

Prof. Dr. Januar Eko Prasetio, M.Si., Akt., CA., ASEAN CPA, MPA dikukuhkan sebagai Guru Besar Bidang Kepakaran Akuntansi Keuangan dan Pasar Modal di Prodi Ilmu Akuntansi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) UPN “Veteran” Yogyakarta. Prof. Januar yang juga menjabat sebagai Dekan FEB UPN “Veteran” Yogyakarta, menyampaikan orasi ilmiah berjudul “Tazkiyatun Nafs Ilmu Akuntansi: Paradigma Spiritualis”.

Melalui orasi ilmiahnya, Prof. Januar membawa terobosan baru dengan mengusung Paradigma Spiritualis melalui konsep Tazkiyatun Nafs dalam praktek Ilmu Akuntansi, sehingga memungkinkan peneliti mengembangkan ilmu akuntansi secara lebih luas dan inovatif. Prof. Januar mengatakan, tujuan penelitian akuntansi dengan Paradigma Spiritualis adalah membangkitkan kesadaran ketuhanan (to awaken God-consciousness). Dalam Paradigma Spiritualis, asumsi dasar penelitian bersumber dari ajaran Islam yang bersumber utama dari Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah Muhammad SAW.

“Paradigma ini menghendaki agar ilmu akuntansi yang dihasilkan melalui penelitian mampu menumbuhkan kesadaran ketuhanan bagi penggunanya.

Sebagai ilustrasi, informasi laba dalam akuntansi modern umumnya hanya merepresentasikan aspek material sehingga cenderung membangkitkan kesadaran material pada pengguna. Namun, apabila informasi laba tidak dibatasi pada dimensi materi, melainkan juga mencakup dimensi mental dan spiritual, maka informasi tersebut berpotensi membangkitkan kesadaran ketuhanan pada para penggunanya.

Momentum pengukuhan guru besar ini menjadi inspirasi bagi seluruh dosen dan civitas akademika untuk terus meningkatkan kinerja akademik, memperkuat budaya riset, serta menjaga marwah institusi sebagai pusat keunggulan ilmu pengetahuan.

Penulis: Ulfa

Editor: Dewi