Kepala BRIN Dorong UPN “Veteran” Yogyakarta Perkuat SDM Adaptif Hadapi Disrupsi AI

  • Kamis 10 September 2026
  • Oleh : Dewi
  • 40
  • 4 Menit membaca
UPN VETERAN Yogyakarta

YOGYAKARTA, 10 September 2026 — Perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) yang semakin pesat mendorong perguruan tinggi melakukan transformasi dalam pendidikan, riset, dan pengembangan sumber daya manusia (SDM). Perguruan tinggi tidak cukup hanya menguasai teknologi, tetapi juga perlu menyiapkan SDM yang mampu belajar cepat, beradaptasi, memiliki karakter kuat, serta bijaksana dalam memanfaatkan teknologi.

Pesan tersebut disampaikan Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Prof. Dr. Arif Satria, S.P., M.Si., dalam Kuliah Umum di Universitas Pembangunan Nasional (UPN) “Veteran” Yogyakarta, Kamis (10/9/2026).

Arif mendorong perguruan tinggi, termasuk UPN “Veteran” Yogyakarta, untuk memperkuat learning agility, yakni kemampuan belajar dan beradaptasi secara cepat dalam menghadapi perubahan serta disrupsi teknologi.

Menurutnya, perkembangan AI dan robotik akan semakin mengubah lanskap pendidikan tinggi. Berbagai pekerjaan yang bersifat rutin, termasuk sebagian proses pembelajaran, berpotensi dilakukan oleh teknologi. Kondisi tersebut menuntut perubahan peran dosen dari sekadar penyampai pengetahuan menjadi pendidik yang mampu memberikan nilai tambah yang tidak mudah direplikasi oleh mesin.

“Sekarang ketika kita bicara teaching university, yang kita hadapi adalah humanoid teacher. Bahkan Bill Gates mengatakan, 10 tahun lagi guru-guru bisa digantikan AI. Pertanyaannya, bagaimana transformasi kita?” ujar Arif.

Ia menegaskan bahwa kehadiran AI justru menjadi momentum bagi perguruan tinggi untuk meningkatkan kualitas pendidik.

“Guru yang bisa digantikan AI adalah guru yang biasa. Dosen yang bisa digantikan AI adalah dosen biasa. Dosen yang biasa hanya bisa menyampaikan, dosen yang baik bisa menjelaskan, tetapi dosen yang hebat bisa menginspirasi. Yang tidak bisa digantikan AI adalah dosen yang hebat,” tegasnya.

Arif menjelaskan, kemampuan intelektual tertentu yang selama ini menjadi keunggulan manusia semakin banyak dapat dilakukan oleh mesin. Namun, aspek seperti kebijaksanaan (wisdom), empati, nilai, dan pertimbangan kemanusiaan tetap menjadi kekuatan yang tidak dapat begitu saja digantikan teknologi.

“Kepintaran yang saya pandang, otak ini sudah digantikan oleh mesin semua. Namun, bicara soal wisdom, itu soal hati. Itu tidak bisa digantikan oleh mesin,” katanya.

Karena itu, menurut Arif, perguruan tinggi perlu membangun SDM yang memiliki kemampuan belajar sepanjang hayat, adaptif terhadap perubahan, dan mampu menggunakan teknologi secara produktif serta bertanggung jawab.

Penguatan tersebut, lanjutnya, perlu diikuti dengan pembaruan kurikulum agar pendidikan tinggi tetap relevan dengan perkembangan teknologi dan kebutuhan dunia kerja. Mahasiswa juga perlu dibekali kemampuan memanfaatkan AI untuk menghasilkan pengetahuan, inovasi, dan solusi bagi masyarakat.

“Perguruan tinggi juga harus menyesuaikan kurikulumnya agar tetap relevan dengan ancaman dan peluang di era AI. Jangan sampai kita hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi harus mampu memanfaatkan AI untuk menghasilkan pengetahuan, inovasi, dan solusi bagi masyarakat,” katanya.

Selain kurikulum dan SDM, Arif menekankan pentingnya perguruan tinggi memperkuat kolaborasi riset, baik di tingkat nasional maupun internasional. Jejaring global dinilai dapat memperluas akses terhadap pengetahuan, teknologi, sekaligus memperkuat ekosistem inovasi.

“Kolaborasi global menjadi semakin penting. Perguruan tinggi perlu memanfaatkan jejaring internasional dan memperkuat kolaborasi riset untuk membangun ekosistem pemodelan berbasis AI yang kuat dan kompetitif,” ujar Arif.

Ia berharap perguruan tinggi Indonesia mengambil posisi strategis dalam perkembangan AI, tidak berhenti sebagai pengguna teknologi, tetapi turut menghasilkan pengetahuan dan inovasi yang memberikan dampak bagi masyarakat dan bangsa.

Rektor UPN “Veteran” Yogyakarta, Prof. Dr. Mohamad Irhas Effendi, M.Si., menyambut positif arahan Kepala BRIN tersebut. Menurutnya, perkembangan AI menjadi momentum bagi UPN “Veteran” Yogyakarta untuk memperkuat kualitas SDM di lingkungan UPN Veteran Yogyakarta.

“UPN ‘Veteran’ Yogyakarta berkomitmen memperkuat SDM yang memiliki learning agility, sehingga mampu belajar, beradaptasi, dan merespons perubahan dengan cepat. Penguasaan teknologi harus berjalan beriringan dengan penguatan karakter, kepemimpinan, integritas, dan wisdom,” ujar Irhas.

Ia menilai transformasi pendidikan tinggi juga harus diikuti perubahan peran dosen. Di tengah kemudahan akses informasi dan kehadiran AI sebagai sumber pembelajaran, dosen tidak cukup hanya berperan sebagai penyampai materi, tetapi perlu menjadi fasilitator dan inspirator yang mampu mengembangkan kemampuan berpikir kritis mahasiswa sekaligus menanamkan nilai kebangsaan, integritas, dan kepekaan sosial.

“Dosen ke depan bukan hanya lecturer, tetapi juga harus menjadi fasilitator dan inspirator. Teknologi dapat membantu proses pembelajaran, tetapi nilai-nilai kebangsaan, integritas, kepemimpinan, dan kepekaan sosial harus tetap menjadi bagian penting dari pendidikan,” ungkapnya.

UPN “Veteran” Yogyakarta juga memandang perkembangan AI sebagai peluang untuk memperkuat ekosistem riset dan inovasi. Sinergi dengan BRIN diarahkan tidak hanya pada pengembangan teknologi, tetapi juga peningkatan kapasitas SDM dan penguatan kolaborasi penelitian.

Melalui kolaborasi tersebut, UPN “Veteran” Yogyakarta berkomitmen mengembangkan riset dan inovasi yang relevan dengan kebutuhan bangsa serta memperluas jejaring nasional dan internasional untuk meningkatkan dampak penelitian.

Sebagai Kampus Bela Negara, UPN “Veteran” Yogyakarta memandang penguasaan teknologi harus berjalan seiring dengan pembangunan karakter. AI dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan produktivitas, mempercepat proses riset, dan mendorong inovasi, tetapi manusia tetap menjadi aktor utama dalam menentukan arah, nilai, serta manfaat teknologi.

Kuliah umum Kepala BRIN menjadi momentum bagi UPN “Veteran” Yogyakarta untuk memperkuat transformasi pendidikan tinggi di tengah perubahan teknologi yang semakin cepat. Era AI tidak hanya membutuhkan manusia yang cerdas secara intelektual, tetapi juga SDM yang adaptif, berkarakter, mampu berkolaborasi, serta memiliki kebijaksanaan dalam menggunakan teknologi untuk kepentingan masyarakat dan bangsa.