Perkuat Desa Wisata Tinalah, UPN Veteran Yogyakarta Tingkatkan Kapasitas Pemandu dan Ekonomi Kreatif

  • Senin 24 Agustus 2026
  • Oleh : Admin
  • 33
  • 4 Menit membaca
UPN VETERAN Yogyakarta

KULON PROGO – Tim Pengabdian kepada Masyarakat UPN “Veteran” Yogyakarta menggelar kegiatan bertajuk “Penguatan Pilar Ekonomi Desa Wisata Tinalah melalui Pengelolaan Homestay, Ekonomi Kreatif, dan Pemandu Wisata” di Desa Wisata Tinalah, Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, pada 22–23 Agustus 2026.

Kegiatan tersebut diarahkan untuk memperkuat kapasitas sumber daya manusia sekaligus menggali potensi ekonomi lokal yang dapat dikembangkan menjadi bagian dari pengalaman wisata di Desa Wisata Tinalah. Penguatan dilakukan melalui peningkatan kemampuan komunikasi pelaku wisata serta pengembangan potensi komoditas lokal, khususnya kopi, agar memiliki nilai tambah dalam ekosistem pariwisata.

Salah satu agenda yang dilaksanakan adalah pelatihan Bahasa Inggris bagi pemandu wisata, pengelola desa wisata, dan pengelola homestay. Pelatihan diberikan oleh tim pengabdi UPN “Veteran” Yogyakarta untuk meningkatkan kemampuan pelaku wisata dalam berkomunikasi dan memberikan pelayanan kepada wisatawan, khususnya wisatawan mancanegara.

Kemampuan berbahasa asing menjadi salah satu kompetensi penting bagi desa wisata yang ingin memperluas pasar. Pemandu wisata dan pengelola homestay tidak hanya dituntut mampu menyampaikan informasi, tetapi juga memperkenalkan cerita, budaya, produk, serta karakter khas desa kepada pengunjung. Karena itu, peningkatan kemampuan Bahasa Inggris diharapkan mendukung pelayanan wisata yang semakin profesional tanpa menghilangkan identitas lokal Desa Wisata Tinalah.

Selain peningkatan kapasitas pemandu dan pengelola wisata, masyarakat juga memperoleh pelatihan “Potensi Kopi: Teknik Budidaya, Panen, dan Pengolahan Pascapanen” bersama Agus Sulistyo dari Trajumas Java Coffee. Narasumber merupakan pelaku pengembangan kopi di kawasan Menoreh dan pendiri Trajumas Java Coffee.

Pelatihan tersebut membuka wawasan masyarakat bahwa kopi tidak hanya dapat diposisikan sebagai komoditas pertanian, tetapi juga dikembangkan sebagai produk ekonomi kreatif sekaligus atraksi wisata. Kawasan Perbukitan Menoreh memiliki kondisi geografis dan iklim yang mendukung pengembangan kopi. Topografi perbukitan memberikan drainase yang baik, sementara vegetasi yang masih terjaga memberikan naungan alami dan membantu menciptakan iklim mikro bagi tanaman kopi.

Dari Komoditas Pertanian Menjadi Pengalaman Wisata

Potensi kopi Menoreh semakin menarik karena kawasan ini memungkinkan berkembangnya beberapa jenis kopi dengan karakter berbeda. Materi pelatihan memperkenalkan tiga varian utama, yaitu Robusta, Arabika, dan Liberika, yang dapat tumbuh pada karakter ketinggian berbeda di kawasan Perbukitan Menoreh. Keragaman tersebut memberikan peluang bagi masyarakat untuk mengembangkan produk kopi dengan identitas lokal yang lebih kuat.

Masyarakat juga diperkenalkan pada pentingnya peningkatan kualitas sejak proses budidaya, pemanenan hingga pascapanen. Praktik panen dan pengolahan yang lebih baik menjadi kunci untuk meningkatkan nilai ekonomi kopi. Dalam materi disebutkan bahwa pengembangan kopi Menoreh mulai diarahkan pada penerapan panen buah merah, sortasi yang lebih ketat serta berbagai metode pengolahan seperti honey, natural, dan washed untuk menghasilkan produk dengan kualitas yang lebih baik.

Yang tidak kalah penting, kopi juga memiliki peluang untuk diintegrasikan dengan aktivitas pariwisata. Pengembangan kopi Menoreh dapat bertumpu pada empat aspek sekaligus, yakni ekologi, ekonomi, sosial, dan pariwisata. Pengembangan kopi dapat berkontribusi pada konservasi lingkungan, peningkatan nilai tambah produk pertanian, pembukaan ruang ekonomi bagi masyarakat, serta penciptaan atraksi wisata berbasis kebun dan budaya kopi.

Konsep tersebut sejalan dengan arah pengembangan Desa Wisata Tinalah yang menempatkan potensi lokal sebagai bagian dari pengalaman wisata. Kopi, misalnya, dapat dikembangkan tidak hanya menjadi produk oleh-oleh, tetapi juga menjadi bagian dari paket wisata berupa kunjungan kebun, pengalaman memetik kopi, pengenalan pengolahan pascapanen hingga aktivitas mencicipi berbagai karakter kopi. Materi pelatihan bahkan menggambarkan kemungkinan pengembangan paket eduwisata berupa tur panen kopi, kelas pascapanen, dan sesi pengenalan cita rasa kopi.

Pengembangan tersebut juga dapat terhubung dengan sektor ekonomi masyarakat lainnya. Produk kopi dapat dipadukan dengan kuliner khas lokal seperti geblek, tempe benguk, pisang goreng kepok, dan jadah, sehingga pengalaman menikmati kopi sekaligus menjadi pintu masuk untuk memperkenalkan produk UMKM dan kekayaan kuliner Kulon Progo kepada wisatawan.

Dalam materi pelatihannya, Agus Sulistyo menekankan bahwa pengembangan kopi tidak semestinya berhenti pada persoalan cita rasa. “Kopi yang baik tidak hanya berbicara tentang rasa di lidah, tetapi juga tentang cerita pelestarian alam dan kesejahteraan tangan-tangan yang merawatnya.”

Melalui rangkaian kegiatan tersebut, Tim Pengabdian UPN “Veteran” Yogyakarta berharap pengembangan Desa Wisata Tinalah dapat semakin mengintegrasikan pelayanan wisata, homestay, kapasitas pemandu, produk ekonomi kreatif, pertanian, dan potensi lokal ke dalam satu ekosistem pariwisata yang memberikan manfaat ekonomi lebih luas bagi masyarakat.

Program pengabdian ini juga menjadi bagian dari upaya perguruan tinggi untuk menghadirkan pengetahuan dan keahlian yang dapat diterapkan langsung bersama masyarakat. Penguatan desa wisata tidak hanya dilakukan melalui pembangunan destinasi, tetapi terutama melalui peningkatan kemampuan masyarakat dalam mengelola, mengemas, menceritakan, dan memberikan nilai tambah terhadap potensi yang telah mereka miliki.

Kegiatan pengabdian masyarakat tersebut dilaksanakan oleh tim UPN “Veteran” Yogyakarta yang terdiri atas Dr. Eny Endah Pujiastuti, S.Sos., M.Si.; Dr. Retno Hendariningrum, S.IP., M.Si.; Dr. Antik Suprihanti, S.P., M.Si.; Cahyo Adi Jati Nugroho, S.IP., MBA; Panji Dwi Ashrianto, M.I.Kom.; dan Dr. June Cahyaningtyas, S.IP., M.Si.